Terimakasih, Guru…
Februari 5, 2009
Aku bertanya pada Sang Guru: apa aku boleh berkesah?
Dia jawab,”Berkesahlah anakKu, Aku siap mendengarkan.”
Dan keluh kesahpun mengalir. Tentang kemiskinan yang pernah menjeratku, yang menempatkanku dalam kelompok yang terpinggirkan, tanpa penghargaan. Tentang pelecehan yang melumat habis harga diriku. Tentang masa kecil yang kering tanpa kasih sayang. Tentang sakit hati yang laksana duri, merobek, menusuk, dan membusukkan.
Dia mengusap kepalaku,”Maafkan Aku, anakKu… Tapi lihatlah dirimu. Kau tampak cantik dan kuat.”
“Apa Kau mau mengatakan kalau itu semua ujianMu, Guru? Tapi kenapa tak Kau beri aku kesempatan memilih? Kenapa Kau uji aku dari masa kanakku?”
“Pada saatnya kau akan menyadarinya, anakKu”
“Tapi kapankah itu, Guru?”
Dan aku pun kembali berkesah. Tentang keputusan-keputusan yang salah. Memang aku yang membuat keputusan. Tapi kalau saja kebahagiaan membentukku, aku dapat melakukan yang lebih baik. Kalau cinta melingkupiku, aku akan memilih yang paling tepat untuk hidupku.
“Tidakkah Guru melihatku menderita..”
“Iya, sayang.. Aku tau. Tapi Aku juga tau kalau kau pernah diingatkan oleh suara hatimu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau memilih untuk tetap hidup dengan sakit hati dan kemarahan. Bukankah cukup banyak hal yang mustinya membuatmu berpaling? Bukankah kau ini memang bandel, tidak berhenti sebelum mencoba?”
“Ah, Guru.. Kau selalu tau.”
“Dan bukankah sekarang kau merasa lebih baik dengan hidup tanpa sakit hati dan kemarahan? Kau sudah dibuat kaya oleh pelajaran kehidupan.”
“Iya, Guru..”
“Apa kau masih merasa perlu berkesah?”
“Tidak, Guru.. Betul kata Guru, aku lebih kuat dengan ujianMu. Aku tidak akan berkesah lagi, Guru. Aku mau berterimakasih padaMu. Tapi… “
“Kenapa lagi, anakKu?”
“Guru.. Kenapa tak Kau ijinkan pertemuan kami? Kenapa tak Kau beri kesempatan itu, Guru?”
“AnakKu, aku tidak akan menjawab itu. Aku hanya memastikan padamu, aku membiarkan proses itu terjadi padamu. Itu yang akan membuatmu lebih indah. Bukankah dalam keadaan ini kau jadi mengerti tentang cinta yang sesungguhnya? Bukankah dengan segala runutan peristiwa yang kau alami, kau sudah membuat keputusan-keputusan penting yang membuatmu merasa lebih berharga?”
“Iya, Guru… Tapi aku takut.. Apa yang akan kujelang besok?”
“Jangan takut, anakKu.. Aku akan selalu menyertaimu. Kalau kau tidak melihatKu, yakinlah, dari jauh Aku memperhatikanmu. Percayalah aku akan selalu menjagamu. Kau tau kenapa? Karena Aku menyayangimu.”
“Terimakasih, Guru… Terimakasih.”
Silent Lucidity
Februari 4, 2009
Kukatakan padanya, ”Semalam aku memimpikanmu”. Orang bilang mimpi dapat dimaknai macam-macam. Bisa jadi aku terlalu memikirkannya sehingga alam bawah sadarku menyimpannya dalam memoriku dan memunculkannya lewat mimpi. Tapi konon mimpi juga bisa menjadi petunjuk jawaban untuk pertanyaan yang sedang kita tunggu. Entahlah. Mungkin jawaban pertamalah yang tepat. Karena aku tidak ingat persis isi mimpiku.
Dia tidak menjawab, dan hanya mengirimiku lagu beserta liriknya.
Aku belum kenal lagu ini. Aku tidak kenal pula nama penyanyinya. Tapi jelas-jelas ini ‘laguku’. Pertama denger langsung klik di telinga. Rasanya cukup familiar di pendengaranku. Apakah karena ada kemiripan dengan tipikal grup lain yang pernah kukenal, ataukah ada nuansa yang sama dengan yang pernah dibangun oleh lagu lain. Sekali lagi, entahlah..
Hanya ingin berterimakasih untuk pesan yang dia kirim lewat lagu ini.
SILENT LUCIDITY – QUEENSRYCHE
(Chris DeGarmo)
Hush now dont cry
Wipe away the teardrop from your eye
Youre lying safe in bed
It was all a bad dream
Spinning in your head
Your mind tricked you to feel the pain
Of someone close to you leaving the game of life
So here it is, another chance
Wide awake you face the day
Your dream is over…or has it just begun?
Theres a place I like to hide
A doorway that I run to in the night
Relax child, you were there
But only didnt realize it and you were scared
Its a place where you will learn
To face your fears, retrace the tears
And ride the whims of your mind
Commanding in another world
Suddenly, you hear and see
This magic new dimension
Chorus
I-will be watching over you
I-am gonna help you see it through
I-will protect you in the night
I-am smiling next to you…in silent lucidity
If you open your mind for me
You wont rely on open eyes to see
The walls you built within
Come tumblng down, and a new world will begin
Living twice at once you learn
You7re safe froom pain in the dream domain
A soul set free to fly
A round trip journey in your head
Master of illusion, can you realize
Your dreams alive, you can be the guide but…
Chorus
Hari Ketiga 2009
Januari 3, 2009
Akhirnya tiba juga aku di Bandung. Dan sekarang sudah hari ketiga tahun 2009. Ah, bertambah tua saja kita ini!
Begitu cepat waktu berlalu. Apa bisa aku berharap, biar waktu tidak beranjak? Aku agak khawatir menghadapi berbagai kemungkinan. Aku ingin tetap di saat ini, bersamamu, dengan segala rasa yang kumiliki. Terlepas dari segala beban dan keputusan-keputusan yang menyulitkan. Tapi apa mungkin?
Sudahlah, tak perlu juga membiarkan kekalutan seperti ini bermain di kepalaku. Aku ingin mengingat-ingat perjalanan waktu memasuki tahun baru kemarin. Kau tau, aku begitu gembira kau mau menyisihkan waktu untuk mengucapkan selamat tahun baru, berbagi harapan, dan mengajakku bicara tentang beberapa hal. Belum pernah taun baruku seistimewa kemarin. Biarpun keesokan harinya ada ketidaknyamanan yang muncul, tapi percayalah, aku selalu bisa memahami itu. Meskipun pula sehari berikutnya aku sama sekali tidak ingin membangun komunikasi denganmu.
Jadi aku ingin bercerita tentang hari tanpa komunikasi kemarin. Pada hari kepulanganku ke Bandung kemarin aku nyaris terlambat. Hanya 5 menit jelang kedatangan kereta yang terjadwal jam 10.16 aku baru sampai. Sementara tiket belum kupegang, harus mencari seorang karyawan PT KA yang bersedia kurepotkan. Terengah-engah karena berlarian. Tapi akhirnya berhasil juga menikmati kenyamanan kereta eksekutif jurusan Surabaya-Bandung itu dua bangku sekaligus. Mau tau apa yang kemudian kulakukan sepanjang waktu di kereta? Diantara khayalanku tentangmu, aku membaca buku pemberianmu. Buku yang semakin membuatku ingin terus membangun energi positifku. Buku yang tiap baca halaman pertamanya membuatku teringat pada bertahun silam. Kau pernah menungguku begitu lama (dan dalam ketidakjelasan). Maafkan aku ya… Tapi melihat catatanmu itu, aku juga ingin mencatat begini: kau orang dari masa laluku, masa kiniku, dan (berharap) ada juga di masa depanku…
Sekali lagi , trimakasih bukunya… Semakin jauh semakin menarik. Sampai akhirnya aku harus betul-betul menutupnya karena cahaya yang tak lagi mendukung.
Menjelang malam suhu dalam kereta bertambah dingin. Orang mengusahakan kehangatan untuk dirinya sendiri. Perempuan muda di sebelahku (akhirnya bangku sebelahku diambil alih di Stasiun Jogja) sudah terlelap. Seorang ibu meninabobokan anaknya, gadis kecil berambut kriwil. Di seberang, dua anak muda berbagi kehangatan. Si gadis terlelap dalam pelukan pasangannya. Uuh, bikin sirik saja. Jadi teringat ceritamu di awal tahun kemarin. Persis pergantian taun, di tengah obrolan kita kau mengumpat kecil: “Sialan, ada yang lagi ciuman di pinggir jalan. Udah tau perasaan lagi kaya gini..” Hahaha..
Jam delapan malam tiba juga di Stasiun Bandung. Semua orang bergegas. Mungkin sudah mulai teringatkan pada sekian pekerjaan yang harus diselesaikan di kota ini. Mungkin ada janji pertemuan yang harus segera ditepati. Atau mungkin juga ingin segera menuntaskan kerinduan yang tertunda sekian lama (sedangkan aku masih butuh waktu lebih lama lagi tampaknya untuk menjumpaimu…) Ah, jadi ingat saat kau mengantarku, dengan ciuman yang terburu. It’s ok.. it was so nice.
Semoga masih ada kesempatan untuk kita bertemu. Semoga…
Matahari Kecil
November 27, 2008
Aku ingat matahari kecil itu. Aku mengingat dan menginginkannya sejak kali pertama melihatnya. Siapakah pemiliknya? Kalau aku tau, akan kutanya: “Apakah matahari kecil itu boleh kumiliki?”
Dan orang-orang bergegas. Karena konon di sini waktu seperti kereta hantu, bergerak tanpa kenal ampun. Di satu sudut, dua orang saling menjabat erat,”Apa kabarmu?” Pada sudut lain dua orang bersitatap,”Aku Markus, mari kita bicara.”
Pada sebuah meja, mereka bertukar catatan. Di tengah arena mereka bersitegang,”Harusnya dia sudah datang!” Di tengah arena mereka berkerumun, menggumamkan persetujuan. Ah, betapa sibuknya semua orang.
Tapi mungkin aku pun begitu. Sibuk dengan marah dan heranku: apa kau akan korbankan aku di medan ini? Jangan katakan rasa itu telah menjadikanmu dungu! Matahari kecil, bebaskan aku dari amarah ini. Tapi kepada siapa aku harus bertanya?
“Siapa pemilik matahari kecil itu?” Mereka tidak menjawab.
Kutanya lagi,”Siapa pemilik matahari kecil itu?” Semua orang menggeleng.
“Dia pemiliknya.” Sebuah suara menunjukkanku pada mata itu. Ahai.. kaukah pemilik matahari kecil itu? Kaukah pemberi kilaunya?
“Bolehkah kumiliki matahari kecil itu?”
“Matahari kecil ini akan jadi milikmu. Suatu saat…”
“Kapan?” Kau hanya diam dan membiarkanku mencari jawabnya pada matamu.
Ah!!!
(Ingin memotretmu dan mempiguraimu. Biar matamu hanya untukku..)
Pecah juga bisul itu…
September 23, 2008
Akhirnya pecah sudah bisul itu! Bisul yang bikin nyeri dan menyiksa.
Sore kemarin, dengan sedikit berkecamuk aneka perasaan yang entah apa itu namanya, kukemas semua barang itu dalam sebuah paket. Terkirim! Selesai…
Susahnya berhubungan dengan seseorang yang tidak kita cintai. Dan lebih susah lagi ketika orang tersebut tidak peduli dan tidak bisa menghargai kalau kita sedang berusaha untuk mencintai.
Knife (by Rockwell)
Juni 19, 2008
You touched my life
With your softness in the night
My wish was your command
Until you ran out of love
I tell myself I’m free
Got the chance of livin’ just for me
No need to hurry home
Now that you’re gone
Knife
Cuts like a knife
How will I ever heal?
I’m so deeply wounded
Knife
Cuts like a knife
You cut away the heart of my life
When I pretend
Wear a smile to fool my dearest friends
I wonder if they know
It’s just a show
I’m on a stage
Day and night I go through my charades
But how can I disguise
What’s in my eyes?
Knife
Cuts like a knife
How will I ever heal?
I’m so deeply wounded
Knife
Cuts like a knife
You cut away the heart of my life
Oh, oh
Oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh,
I’ve tried and tried
Blocking out the pain I feel inside
The pain of wanting you
Wanting you
Knife
Cuts like a knife
How will I ever heal?
I’m so deeply wounded
Knife
Cuts like a knife
How will I ever heal?
I’m so deeply wounded
You cut away the heart
Of my life
Kamis, 19 Juni 2008: diantara sunyi ruang-ruang di Jawa 6 yang sudah jauh ditinggalkan para penghuninya, lagu ini tiba-tiba terasa begitu memerihkan. Apa aku sudah kehilangan (mu)?
Belajar dari Rusia
Mei 30, 2008
Bicara tentang Rusia imej yang muncul pastilah sesuatu yang buruk: komunis, atheis, rezim brutal, miskin, konflik, dsb. Imej yang sebetulnya milik Uni Sovyet tersebut kemudian menempel pada Rusia yang sebetulnya hanya memiki sebagian wilayah Uni Sovyet.
Namun, kini Rusia tidak dapat lagi dipandang sebelah mata. Tanah kelahiran revolusi sosialis ini kembali sejajar dengan negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat baik dalam bidang ekonomi dan politik. Lantas apa yang membuat Rusia bisa kembali menemukan martabatnya?
Buku berjudul “Bangkitnya Rusia” ini menguraikan bagaimana peran Putin dan Eks KGB. Keberhasilan Rusia adalah keinginan kuat Presiden Vladimir Putin yang menggandeng mantan anggota KGB. Sejak masa reformasi KGB disudutkan dan tidak diberi panggung. KGB kembali mendapat kepercayaan rakyat pada masa pemerintahan Boris Yeltsin. Saat itu Yeltsin mengikuti anjuran IMF dengan melakukan liberalisasi secara radikal. Alhasil, bukan mendapatkan kemakmuran, sebaliknya malah menghancurkan perekonomian Rusia. Yang paling diuntungkan oleh konsep yang ditawarkan IMF ini adalah oligarki yang notabene adalah kroni Yeltsin.
Putin yang kemudian mendapat simpati rakyat pun menduduki kursi kepresidenan. Dia bersikeras menolak dikte asing. Putin juga memanfaatkan kaum Siloviki (eks KGB yang namanya diubah menjadi FSB). Tidak seperti cara kerja mereka sebelumnya, kali ini eks KGB tersebut bekerja dengan tetap sesuai hukum yang mendukung pemerintahan Rusia. Negara tetap sebagai pengontrol kekayaan, sektor strategi harus dilindungi dari dominasi asing, dan penghapusan oligarki. Dunia Barat mengkritik tindakan Putin. Mereka menuding Rusia tidak melaksanakan demokrasi secara benar. Putin dan Siloviki berkelit dengan mengatakan Rusia menentukan sendiri model demokrasinya, yakni demokrasi kedaulatan.
Sepakat atau tidak sepakat dengan model yang diterapkan Putin, namun tampaknya apa yang sedang berlangsung di Rusia ini dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk Indonesia bangkit dari keterpurukannya. Dalam buku ini juga disertakan contoh-contoh yang membandingkan kondisi Indonesia dan Rusia yang relatif mirip pada sejumlah kasus.
Buku ini ditulis oleh Simon Saragih, wartawan senior Kompas yang berpengalaman dalam tulisan-tulisan bidang ekonomi dan internasional.
Veronika Memutuskan Mati
Mei 5, 2008
Sesuai judulnya, nama Veronika menjadi tokoh sentral novel karya Paulo Coelho ini. Veronika adalah perempuan 24 tahun yang kecewa dengan kondisi sosial di sekelilingnya. Dia juga mengalami kejenuhan dalam hidupnya, bosan menghadapi rutinitas, hidup yang stagnan. Dan Veronika yang cantik dan pintar itu memilih untuk mati.
Kenapa harus mati? Seringkali kematian menjadi sesuatu yang layak dipertimbangkan. Ada yang bilang,”toh tidak ada yang berubah, mati sekarang atau nanti”. Atau yang sekarang menjadi trend, bunuh diri untuk menghindari kesulitan di masa depan. Maka, itulah yang dilakukan Veronika. Dari surat-surat yang ditemukan kemudian, isinya mengkritik masyarakat akan ketidaktahuan mereka akan negara Slovenia. Orang sering menyangka Slovenia adalah nama kota di Jerman. Kekesalannya itu menjadi salah satu alasan untuk bunuhdiri. Sederhana bukan? Namun begitulah manusia dengan segala kkompleksitasnya, justru dapat membuat keputusan dengan alas an yang terkesan remeh temeh.
Maka, Veronika yang cantik dan pintar itupun mencoba untuk membunuh dirinya. Obat tidur dalam jumlah banyak pun ditenggaknya. Sayangnya, sayangnya…. Veronika tidak mati. Alhasil, Veronika dibawa ke rumah sakit jiwa Villete, yang terletak di ibukota Slovenia, Ljubljana. Di rumah sakit inilah Veronika justru menemukan banyak hal menarik. Orang-orang yang unik dan berbeda, yang merasa tidak perlu menjadi bagian dari kolektivitas massa. Kadang terbersit penyesalan karena mencoba mengakhiri hidupnya. Namun tentunya sudah terlambat, obat-obatan yang dikonsumsi Veronika sudah merusak jantungnya. Seminggu waktu yang diberikan dokter untuk Veronika menikmati kehidupan. Dalam kurun waktu itu, Veronika mendapatkan pelajaran hidup dari tiap ‘orang aneh’ di sekitarnya. Di rumah sakit ini Veronika belajar mengekspresikan emosinya, gairahnya terhadap seks, belajar arti hidup, jatuh cinta, dsb. Dan Veronika pasrah untuk sisa hidupnya.
Lewat novel yang diterbitkan tahun 1998 ini, Paulo Coelho mengisahkan individu-individu rapuh yang terlempar ke rumah sakit jiwa karena hasrat, impian, dan sikap hidup mereka berbeda dengan yang dianggap normal oleh masyarakat.
P.S.: Namaku Veronika. Tapi aku mencintai kehidupan..
I Need You
Mei 4, 2008
You don’t realize how much I need you
Love all the time and never leave you
Please come on back me
I’m lonely as can be
I need you
Said you had a thing or two to tell me
How was I to know you would upset me?
I didn’t realize
As I looked in your eyes you told me
Oh yes you told me
You don’t want my loving any more
That’s when it hurt me and feeling like this
I just can’t go on any more
Please remember how I feel about you
I coul never really live without you
So come on back and see
Just what you mean to me
I need you
But then you told me
You don’t want my loving any more
That’s when it hurt me and feeling like this
I just can’t go on any more
Please remember how I feel about you
I could never really live without you
So come on back and see
Just what you mean to me
I need you
I need you
Lagu ini direkam untuk Album Help! pada tanggal 15 dan 16 Februari 1965 di EMI Studio, London. I Need You adalah lagu kedua George Harrison yang direkam oleh Beatles. Selain menyanyikannya sendiri, Harrison juga memberikan efek yang beda, unik pada suara gitarnya. Lagu itu ditulis Harrison untuk Pattie Boyd, saat mereka sedang bermasalah.
So come on back and see
Just what you mean to me
I need you
I need you
Itu juga yang ingin kukatakan padamu, malam ini…
Mengeja masa lalu
Mei 4, 2008
COMPOSE
Dan fragmen-fragmen itu kembali beterbangan memenuhi ruang di kepalaku. Melintasi lorong-lorong waktu. Tak terbendung..
Pada sebuah pagi di salah satu kelas di Sekeloa. Orang-orang tak kukenal. Saling bicara, saling tertawa. Cuma dua orang yang kuingat, dia yang mewawancaraiku, dan kau dengan rambut gondrongmu.
Pada sebuah malam, aku berjalan di sepanjang Haur Pancuh, berdua dengan teman kostku. Kita berpapasan di dekat warung padang, dan kau berlalu begitu saja setelah sedikit berbasa-basi. Kau tau, aku berharap kita bisa ngobrol lebih lama (dan kenyataannya kita tidak pernah melakukan itu semasa kuliah dulu).
Aku dulu punya tas kecil Eiger warna abu. Kau tau apa alasan aku beli tas itu? Karena aku suka memperhatikanmu, jalan cepat sambil menyandang tas kecilmu yang warna item itu.
Makar ’94. Kau tidak datang. Dia pun tidak datang. Orang-orang membicarakan kalian. Aku mulai gelisah. Dan aku patah hati.
Siang itu aku ke tempat kostmu untuk –alasan- pinjam buku. Di pintu kamar tertulis “lagi ke *…*(sebuah nama)”. Dan aku putus asa. Mungkin kau sudah membuat keputusan itu (kemudian aku tau, itu hanya sebuah nama rental).
Natal 2004. Kita bareng-bareng jalan dari gereja di Aloysius. It was so nice..
Pada sebuah diskusi di kampus. Kau duduk di depanku. Kau tau bagaimana rasanya? Aku masih ingat seperti apa perasaanku ketika itu. Dan seperti apa rasanya ketika kau minta tissue padaku. Hehe.. lucu!
Sore itu di SekTeng. Berbelok menuju rumah kalian, aku sudah melihatmu lebih dulu. Sedang menyapu, dengan rambut baru. Aku diam, malu berkomentar. Takut teman kecilku itu tau apa yang kusimpan rapat-rapat. Baru ketika masuk rumah kalian dia mulai komentar. Dan aku tetap menghemat suara.
Di kampus. Ada dirimu dan teman-temanmu. Aku juga ada di antara kalian. Dan kau menunjukkan foto. Sepintas aku melihatnya. Kalian menyebutnya si galing. Dan aku cemburu!
Siang itu di pangkalan Damri Jatinangor. Kita bertiga, aku, kau, dan teman kecil kita itu. Entah apa yang kalian obrolkan. Dia menggodaimu, dan kau menunjukkan kekhawatiran. Kau tidak pulang bareng kami, hanya minta receh. Katamu untuk nelfon. Dan sepanjang jalan ke Bandung aku menduga-duga kau sedang menelfon siapa.
Dan fragmen-fragmen itu beterbangan, berhamburan, kemudian menyatu membentuk satu cerita masa lalu. Ya, masa lalu. Jadi jangan khawatir kalo aku memunculkan cerita ini. Tidak ada maksud apa-apa selain mengenang dan sekedar pengakuan. Aku memutuskan untuk mencoba mengenal seorang laki-laki di tahun ’96, setelah kau berlalu dari hadapanku. Padanya kubilang dialah laki-laki pertamaku, tapi kubilang padamu: You are my first love!
Sepanjang masa kuliah, selama masa pertemuan kita, aku bergulat dengan perasaanku sendiri. Kalau dipikir-pikir, hebat banget aku ya ketika itu.. Sanggup bertahan, jauh banget dibandingkan aku yang sekarang. Jangan diambil hati ya.. Buat lucu-lucuan aja.. GBU always!
SENT!
********
INBOX-received a new mail
Ini yang paling tidak kupahami darimu. Bagaimana kau bisa bilang “jangan diambil hati”–kalau membacanya saja sudah bikin hati “ketar-ketir enggak keruan”. Sungguh aku tidak mengerti.
Dulu, ada yang mengatai aku “si bijak”–entah dengan dasar apa. Dan dengan sombongnya aku nyaris percaya bahwa aku adalah seperti yang dituduhkan orang itu (ck.. ck.. ck…, betapa pedenya!). Tapi ternyata aku butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk menyadari bahwa sesungguhnya aku sama sekali tidak bijak–sebaliknya malah! Dan membaca tulisanmu seakan ada yang membisikiku: kamu memang tolol!
Ada dua hal yang dengan keras aku lakukan ketika berinteraksi denganmu sekarang–dalam bentuk apa pun, bahkan sekadar mendengar namamu disebut. Dua hal yang kejam itu adalah “menyesal” dan “andai” (semoga kau mengerti apa yang kumaksud).
Demi masa depan aku harus belajar keras dan berusaha untuk benar-benar menjadi bijak, walaupun itu tidak mudah. Aku sangat mengapresiasi kejujuran dan keterbukaanmu. Tapi rasanya, aku pun mau marah dan berteriak: MENGAPA!!!
Sudahlah… aku sudah tidak bisa menulis lagi. Entah apa yang berkecamuk. Aku cuma bisa bilang: hope you always find the best thing…….
Pengagum setiamu